Back to Stories

Persatuan Dan Kekuatan Cinta

Persatuan memegang visi hakiki bahwa kita adalah satu ekosistem yang hidup dan saling terhubung—Bumi yang hidup yang menopang dan memelihara seluruh penghuninya. Jika kita mengakui dan menghormati kenyataan sederhana ini, kita dapat mulai berpartisipasi dalam upaya penting untuk menyembuhkan dunia kita yang terpecah belah dan terpecah belah, serta merangkul kesadaran akan kesatuan yang merupakan warisan kemanusiaan kita. Inilah kesempatan yang ditawarkan kepada kita, sementara saudara kembarnya yang gelap sedang mengkonstelasi dinamika nasionalisme, kesukuan, isolasionisme, dan semua kekuatan regresif lainnya yang mengekspresikan 'aku' alih-alih 'kita'.

Kesatuan bukanlah gagasan metafisik, melainkan sesuatu yang esensial dan biasa. Ia hadir dalam setiap tarikan napas, dalam kepakan sayap setiap kupu-kupu, dalam setiap sampah yang tercecer di jalanan kota. Kesatuan ini adalah hidup—hidup yang tak lagi dialami semata-mata melalui visi ego yang terfragmentasi, melalui distorsi budaya kita, melainkan dikenal di dalam hati, dirasakan dalam jiwa. Kesatuan ini adalah detak jantung kehidupan. Kita masing-masing berhak menjalani dan merayakan kesatuan ini, untuk berpartisipasi dalam keindahan dan keajaibannya. Dan melalui kesadaran kita, serta tindakan yang lahir dari kesadaran ini, kita dapat membantu menghubungkan kembali dunia kita dengan hakikat aslinya.

Ada banyak cara untuk mengalami dan berpartisipasi dalam kesatuan yang hidup ini. Namun, jika ada yang saya pelajari setelah setengah abad berpraktik spiritual, itu adalah kekuatan cinta. Cinta hadir dalam berbagai bentuk dan ekspresi. Ada tindakan sederhana berupa kasih sayang kepada teman dan keluarga, anggota komunitas kita, atau orang asing. Cinta melampaui batas, mengungkapkan apa yang paling esensial dan manusiawi: apa yang menyatukan alih-alih memecah belah. "Hal-hal kecil dengan cinta yang besar," lebih ampuh dan kuat daripada yang kita sadari, karena hal itu menghubungkan kita kembali dengan akar spiritual kehidupan dan energi transformatif serta penyembuhannya. Karena hidup adalah ekspresi cinta, setiap tindakan cinta merupakan partisipasi dan anugerah bagi keseluruhan.

Memasak dengan cinta dan kasih sayang, mendengarkan keluh kesah orang lain dengan lapang dada, menyentuh tubuh kekasih dengan penuh kelembutan, atau berdoa khusyuk hingga menyatu dalam samudra cinta yang tak terbatas—dalam semua tindakan ini, kita menghayati cinta yang menyatukan kita. Dan melalui cinta kita, kita memelihara kehidupan dengan cara yang tak terlihat.

Dan di masa krisis ekologis ini, saat kita sedang menghancurkan jaring kehidupan yang rapuh, ada kebutuhan vital bagi kita untuk mencintai Bumi, untuk membawanya ke dalam hati dan doa kita. Kita memiliki tanggung jawab spiritual sekaligus fisik untuk 'rumah kita bersama', dan ia memanggil kita, memohon bantuan dan kesembuhan kita. Dalam kata-kata Thich Nhat Hanh:

Perubahan nyata hanya akan terjadi ketika kita mencintai planet kita. Hanya cinta yang dapat menunjukkan kepada kita cara hidup selaras dengan alam dan sesama, serta menyelamatkan kita dari dampak buruk kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

Kita perlu bangkit kembali akan kekuatan cinta di dunia. Cinta kita kepada Bumilah yang akan menyembuhkan apa yang telah kita najiskan, yang akan membimbing kita melewati gurun tandus ini, dan membantu kita membawa kembali cahaya ke dunia kita yang semakin gelap. Cinta menghubungkan kita semua dengan cara yang paling misterius, dan cinta dapat membimbing hati dan tangan kita. Nada sentral cinta adalah kesatuan. Cinta berbicara dalam bahasa kesatuan, bahasa persatuan, alih-alih bahasa perpisahan.

Cinta dapat membuka kita untuk partisipasi mendalam dalam kehidupan secara keseluruhan; cinta dapat mengajarkan kita sekali lagi cara mendengarkan kehidupan, merasakan detak jantung kehidupan, merasakan jiwanya. Cinta dapat membuka kita pada kesakralan dalam seluruh ciptaan dan dapat menghubungkan kita kembali dengan pengetahuan primal kita bahwa Yang Ilahi hadir dalam segala hal—dalam setiap napas, setiap batu, setiap benda hidup dan mati. Dalam kesatuan cinta, segala sesuatu tercakup, dan segala sesuatu adalah sakral.

Dan dari sana, kita bisa mulai merespons. Kita tidak bisa kembali ke kesederhanaan gaya hidup pribumi, tetapi ketika kita membiarkan cinta membimbing kita, kita dapat menjadi lebih sadar akan kesatuan hidup dan menyadari bahwa bagaimana diri kita dan apa yang kita lakukan pada tingkat individu memengaruhi lingkungan global, baik lahiriah maupun batiniah. Kita dapat belajar bagaimana hidup dengan cara yang lebih berkelanjutan, menurut pemahaman yang lebih mendalam tentang keberlanjutan yang bertumpu pada pengakuan akan kesakralan dalam ciptaan. Kita dapat hidup lebih sederhana, mengatakan tidak pada hal-hal materi yang tidak perlu dalam kehidupan lahiriah kita. Kita juga dapat bekerja secara batiniah untuk menyembuhkan ketidakseimbangan spiritual di dunia. Kesadaran individu kita akan kesakralan dalam ciptaan menghubungkan kembali perpecahan antara roh dan materi dalam jiwa kita sendiri, dan juga—karena kita jauh lebih menjadi bagian dari tubuh spiritual Bumi daripada yang kita sadari—dalam jiwa dunia.

Cinta adalah kekuatan paling dahsyat di alam semesta. Cinta menarik kita kembali kepada cinta, cinta menyingkap cinta, cinta menyatukan kita, dan cinta membawa kita pulang. Di lubuk jiwa, kita dicintai oleh Tuhan. Inilah rahasia terdalam menjadi manusia, ikatan cinta yang merupakan inti keberadaan kita dan merupakan bagian dari segala sesuatu yang ada. Dan semakin kita menghayati cinta ini, semakin kita menyerahkan diri pada misteri yang manusiawi sekaligus ilahi ini, semakin penuh kita berpartisipasi dalam hidup apa adanya, dalam keajaiban dan pewahyuannya dari waktu ke waktu.

Cinta dan kepedulian—saling peduli, peduli terhadap Bumi—adalah kualitas manusia yang paling sederhana dan paling berharga. Dan cinta adalah bagian dari kesatuan. Kita menyadari hal ini dalam hubungan antarmanusia, bagaimana cinta mendekatkan kita, dan di momen-momen terdalamnya kita dapat merasakan persatuan fisik dengan sesama. Cinta juga dapat menyadarkan kita bahwa kita adalah satu keluarga manusia, meskipun para penguasa kita menjadi semakin otoriter, dan politik kita semakin memecah belah. Dan pada tingkat terdalam, cinta dapat menghubungkan kembali kita dengan kesatuan hakiki kita dengan seluruh kehidupan, dengan Bumi itu sendiri.

Bumi adalah kesatuan hidup yang lahir dari cinta, yang diciptakan kembali oleh cinta setiap saat. Dan kita dapat menjadi bagian dari transformasi spiritualnya, kebangkitannya. Bumi sedang menunggu dan membutuhkan partisipasi kita. Ia telah terluka oleh keserakahan dan eksploitasi kita, dan oleh kelupaan kita akan hakikat sakralnya. Ia membutuhkan kita untuk mengingat dan terhubung kembali, untuk menjalani kesatuan yang merupakan hakikat sejati kita. Dan cinta adalah kunci paling sederhana untuk kesatuan ini, kenangan ini. Cinta adalah cara yang paling biasa, paling sederhana, dan paling langsung untuk mengungkap apa yang nyata—rahasia terdalam kehidupan. Cinta adalah akar dari segala sesuatu yang ada, juga dalam setiap kuncup yang mekar di musim semi, setiap buah yang matang di musim gugur.

Cinta akan mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari kehidupan—bahwa kita milik satu sama lain dan planet yang hidup dan menderita ini. Cinta akan menghubungkan kita kembali dengan cara-cara suci yang dikenal oleh para leluhur kita, sekaligus menyadarkan kita pada cara-cara baru untuk hidup bersama satu sama lain dan Bumi. Kita hanya perlu berkata, "Ya," pada misteri di dalam hati kita ini, untuk membuka mata rantai cinta yang menyatukan kita semua, yang terjalin dalam jaring kehidupan. Dan kemudian kita akan mengungkap hubungan cinta yang merupakan kehidupan itu sendiri dan mendengarkan nyanyian persatuan yang hidup di hati kita dan hati dunia.

Share this story:

COMMUNITY REFLECTIONS

2 PAST RESPONSES

User avatar
Virginia Reeves Nov 7, 2018

Very nicely stated. Thanks for sharing.

User avatar
Patrick Watters Nov 7, 2018

And yes, for me personally my faith tells me that this is perennial truth and wisdom. I see only harmony with Jesus and true “Christianity” then.