Alam adalah salah satu sumber kemurahan hati yang paling gemilang dan konsisten dalam hidup kita — baik kita mengalaminya secara langsung dari waktu ke waktu maupun tidak. Ketika kita membiarkan diri kita selaras dan memperhatikan, Bumi kita senantiasa memelihara dan menyediakan bagi kita, menopang kehidupan, dan mempersembahkan karunia-karunianya yang melimpah dengan gemilang dan konsisten. Kita diberi makan, secara harfiah maupun kiasan, oleh persembahan Bumi setiap hari. Segala macam hal yang lahir dari Bumi dapat menyadarkan kita pada perspektif baru. Segala macam momen di Alam dapat menawarkan rasa syukur atas betapa berharganya hidup dan mengingatkan kita akan ikatan keterhubungan kita yang rapuh dan kuat. Di tengah lautan, ladang, hujan, pepohonan, bunga, tumbuhan, hewan, langit, burung, matahari – dan masih banyak lagi – kita dapat langsung merasakan kedudukan relatif kita sendiri di tengah dan di tengah kemegahan lanskap. Merasa terhubung erat namun kecil dalam hubungannya dengan alam dapat dengan cepat membawa kita pada rasa sakral. Dengan tunduk pada kekaguman dan keajaiban, kita mengalami anugerah kehidupan dengan lebih mudah dan mendalam.
Namun, kita hidup di masa ketika sumber karunia alam terbesar kita semakin jauh dari kita, hampir tak terjangkau oleh banyak orang, dan terancam serta terancam oleh warisan pilihan manusia dan pilihan yang terus kita buat hingga saat ini. Persembahan Bumi terjalin dalam pakaian kita, tubuh kita, makanan kita... tetapi semua itu terpendam dalam bahan sintetis, kemasan, bangunan, dan metode transportasi yang mengangkutnya. Pandangan kita lebih sering tertuju pada monitor komputer, layar televisi, atau ponsel daripada ke tanah atau langit. Seiring kita semakin menyerah pada kemajuan teknologi, kehidupan kita masing-masing dapat terputus dari jalinan koneksi yang membantu kita mengetahui tempat kita yang sejati dan penting dalam jaring kehidupan yang luar biasa tangguh, rapuh, dan saling timbal balik. Dalam banyak hal, terhubung dengan karunia yang disediakan alam bagi kita dapat membutuhkan upaya yang lebih besar dari sebelumnya, dan dalam banyak hal, hal itu menjadi semakin penting.
Rasa syukur mendukung pengembangan ingatan dan penghormatan yang disengaja atas hubungan kita dengan "Ibu Pertiwi". Dengan bersyukur, kita membuka diri untuk merasakan lebih sepenuhnya keistimewaan atas persembahannya dan mendengarkan, baik tangisan kecil maupun keras, permintaan akan persahabatan dan pengelolaan kita. Memperdalam rasa memiliki terhadap alam dapat memberikan tingkat kehadiran yang tidak hanya membangkitkan keterlibatan yang lebih sakral dan khidmat dengan Bumi, tetapi juga dapat membentuk dan memperkuat cara kita berhubungan dengan diri kita sendiri sebagai makhluk alam yang esensial.
Ketika kita membiarkan diri jatuh cinta pada Bumi dengan segala kemegahannya, kita memperkuat ikatan keterhubungan kita. Kita membiarkan diri kita merasakan kepenuhan emosi yang luar biasa, menyadari betapa tak terpisahkannya kita dari limpahan karunia Bumi yang tak henti-hentinya, menyadari betapa sering dan seringnya kita menganggapnya remeh, dan berduka atas kehilangan yang diderita Bumi dan seluruh makhluknya setiap hari di tangan peradaban kita. Rasa syukur mengajak kita untuk menyembuhkan keterpisahan kita, hidup dalam perayaan yang lebih besar, dan memperkuat posisi kita dalam hubungan timbal balik yang semestinya dengan alam.
Hidup Bersyukur mengajak kita untuk terlibat aktif dalam cara-cara yang lebih menghargai dan sekaligus melestarikan apa yang paling kita hargai. Untuk menumbuhkan rasa kemungkinan bagi dunia alami kita, kita perlu "merasakan" keterhubungan dan saling ketergantungan kita dengan sepenuh hati. Kita terinspirasi untuk melestarikan apa yang menopang kita, dengan mengingat lebih dalam bagaimana kita terikat erat dengan dunia di sekitar kita. Saat kita menyatu dengan kemurahan hati alam, kita belajar untuk lebih rendah hati dan murah hati. Seperti yang dikatakan penyair Hafiz, "Setelah bertahun-tahun bersinar, matahari tak pernah berkata kepada bumi, 'kamu berutang padaku'... Bayangkan bagaimana cinta seperti itu dapat menerangi seluruh dunia."
COMMUNITY REFLECTIONS
SHARE YOUR REFLECTION