Back to Stories

Kepemimpinan Untuk Kebijaksanaan Kolektif

Kepemimpinan untuk Kebijaksanaan Kolektif - Sebuah jaringan orang yang berusaha mewujudkan dan memancarkan prinsip-prinsip kolaborasi, anti kekerasan, dan kebijaksanaan yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah eksistensial dalam kehidupan dan dilengkapi dengan alat, keterampilan, dan praktik yang diperlukan untuk merespons secara efektif di dunia.

LIMA KONDISI UNTUK MUNCULNYA KEBIJAKSANAAN KOLEKTIF

1. Mendengarkan Secara Mendalam

Mendengarkan dengan maksud agar orang lain merasa didengar dan dilihat; menciptakan kondisi dan kehadiran bagi orang lain untuk lebih sepenuhnya mencapai keberadaan tertinggi mereka sendiri.

Mendengarkan apa yang dikatakan dan tidak dikatakan.

Mendengarkan dengan sepenuh hati, pikiran, tubuh, dan jiwa.

2. Menangguhkan Kepastian

Kemampuan untuk menangguhkan apa yang kita anggap benar, tepat, atau pantas untuk jangka waktu tertentu, yang memungkinkan cara mengetahui yang lain dan orang lain untuk berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas.

Menangguhkan kebiasaan-kebiasaan pemahaman yang semata-mata rasional dan logis - memberi kesempatan kepada cara-cara baru untuk mengetahui agar dapat dialami, misalnya dari cara-cara pemahaman serebral ke cara-cara mengetahui yang emosional dan intuitif, dari pikiran rasional logis ke pikiran spiritual mistis.

3. Lihat Sistem Secara Keseluruhan

Mencari perspektif yang beragam.

Tetap waspada terhadap saling ketergantungan intrinsik antara kelompok sendiri, kelompok lain, kolektif yang lebih besar, dan Bumi kita bersama.

Ajukan pertanyaan penting.

Rancang keseluruhan sistem dengan memperhitungkan saling ketergantungan bagian-bagiannya.

Perhatikan semua aspek kesehatan organisasi – kepemimpinan, hubungan, tim, kinerja peran individu, tujuan organisasi, hasil, dan strategi yang konsisten.

Sensemaking - penyelidikan berkelanjutan tentang bagaimana individu dan kelompok menciptakan koherensi.

4. Berkumpul untuk Kemunculan Kelompok

Mengembangkan cara-cara mengetahui yang paralel - intuisi, intelek, kesadaran somatik, penghormatan terhadap pengetahuan leluhur, perhatian terhadap alam dan ruang fisik.

Waspadalah terhadap apa yang muncul dalam medan energi kelompok - baik pikiran maupun emosi.

Biarkan gangguan pada gagasan atau norma yang mapan mengarah pada kebijaksanaan yang lebih besar dan ketahanan kelompok.

Ciptakan ruang aman untuk berdialog.

Jaga rasa hormat terhadap orang lain, terhadap hubungan, terhadap kesopanan manusia.

Berlatihlah menahan diri dalam berbicara dengan mengutarakan ide, perasaan, dan hasrat Anda dengan jelas.

Perhatikan emosi yang muncul dalam diri Anda dan orang lain.

5. Percaya pada hal yang luar biasa

Percayalah pada apa yang dapat muncul di atas dan di luar pemahaman Anda saat ini.

Sambut semua yang muncul.

Tolak keinginan untuk dibatasi oleh batasan nilai normatif atau ekspektasi orang lain.

Kenali kekuatan sinkronisitas dan kebetulan yang bermakna untuk membentuk pilihan dan menginspirasi kekaguman dan tindakan.

Share this story:

COMMUNITY REFLECTIONS

2 PAST RESPONSES

User avatar
Theodora Apr 29, 2015

Wonderful ! Inspiring !
Just a thought on # 4 Gather for Group Emergence
Create a safe space for dialogue ...
and also art sharing - visual, writing, music, performance etc.
The creative arts establish inherent venues in real time and space for group-distillation, group-communication, and group-sharing of individual thoughts, emotions, insights, etc in a shared, experiential environment. The creative arts bring people together in ways that synthesis, embrace, and also transcend dialogue, yet their capacity to communicate "parallel ways of knowing - intuition, intellect, somatic awareness, respect for ancestral knowledge, regard for nature and physical space" can be not only effective, but palpable, dynamic, and over-the-top exciting!
Just an additional consideration!

Love your article by Alan Briskin !

User avatar
Chandran Krishnan Peechulli Apr 29, 2015

Good daily thoughts promotes GOODNESS in the whole of human community.