Back to Stories

“Panen Yang Terhormat”: Pelajaran Dari Tradisi Adat Ucapan Syukur

Bagaimana jika pada musim liburan ini kita hanya mengisi keranjang belanjaan dengan apa yang kita butuhkan dan memberikan sesuatu sebagai balasannya?

panen-oleh-shutterstock-650.jpg

Di musim panen ini, keranjang kami penuh, penuh dengan apel harum dan penuh dengan labu musim dingin. Begitu pula kereta belanja baja yang berderak di tempat parkir, kantong plastik bergoyang tertiup angin. Bagaimana kami menyebut kelimpahan seperti itu? Apakah ini komoditas? Sumber daya alam? Layanan ekosistem? Dalam pandangan dunia masyarakat adat, kami menyebutnya hadiah.

Kita dihujani setiap hari dengan karunia Bumi: udara untuk bernapas, air segar, persahabatan dengan angsa dan pohon maple—dan makanan. Karena kita tidak memiliki karunia fotosintesis, kita sebagai hewan ditakdirkan oleh biologi untuk sepenuhnya bergantung pada kehidupan orang lain, orang-orang yang pada dasarnya murah hati dan lebih dari sekadar manusia yang berbagi planet dengan kita.

Jika kita memahami Bumi hanya sebagai kumpulan benda, maka apel dan tanah yang menyediakannya berada di luar lingkaran pertimbangan moral kita. Kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita dapat menggunakannya sesuka kita, karena kehidupan mereka tidak penting. Namun dalam pandangan dunia yang memahami mereka sebagai pribadi, kehidupan mereka sangatlah penting. Pengakuan terhadap keberadaan pribadi tidak berarti bahwa kita tidak mengonsumsi, tetapi kita bertanggung jawab atas kehidupan yang kita ambil. Ketika kita berbicara tentang dunia yang hidup sebagai kerabat, kita juga dipanggil untuk bertindak dengan cara-cara baru, sehingga ketika kita mengambil kehidupan tersebut, kita harus melakukannya dengan cara yang membawa kehormatan bagi kehidupan yang diambil dan kehormatan bagi mereka yang menerimanya.

Aturan prinsip adat yang mengatur pertukaran kehidupan dengan kehidupan dikenal sebagai Panen Terhormat. Aturan tersebut merupakan semacam "aturan" yang mengatur pengambilan kita, sehingga dunia ini tetap kaya untuk generasi ketujuh sebagaimana halnya untuk kita.

Panen Terhormat, sebuah praktik kuno sekaligus mendesak, berlaku untuk setiap pertukaran antara manusia dan Bumi. Protokolnya tidak tertulis, tetapi jika tertulis, akan terlihat seperti ini:

Mintalah izin kepada orang-orang yang hidupnya Anda incar. Patuhi jawabannya.

Jangan pernah ambil yang pertama. Jangan pernah ambil yang terakhir.

Panen dengan cara yang meminimalkan kerusakan.

Ambillah hanya apa yang kamu butuhkan dan sisakan sebagian untuk orang lain.

Gunakan apa pun yang kau bawa.

Ambillah hanya apa yang diberikan kepadamu.

Bagikanlah, sebagaimana Bumi telah berbagi denganmu.

Bersyukur.

Balaslah hadiahnya.

Dukunglah orang-orang yang mendukungmu, maka Bumi akan bertahan selamanya.

Meskipun kita hidup di dunia yang penuh dengan anugerah, kita mendapati diri kita terikat pada lembaga dan ekonomi yang tanpa henti bertanya, "Apa lagi yang bisa kita ambil dari Bumi?" Agar keseimbangan terjadi, kita tidak bisa terus mengambil tanpa mengisinya kembali. Tidakkah kita perlu bertanya, "Apa yang bisa kita berikan?"

Panen yang Terhormat merupakan perjanjian timbal balik antara manusia dan tanah. Daftar sederhana ini mungkin tampak seperti resep kuno tentang cara memetik buah beri, tetapi ini adalah akar dari protokol etika canggih yang dapat membimbing kita di masa ketika eksploitasi yang tak terkendali mengancam kehidupan di sekitar kita. Ekonomi dan lembaga Barat menjerat kita semua dalam panen yang sangat tidak terhormat. Secara kolektif, dengan persetujuan atau tidak bertindak, kita telah memilih kebijakan yang kita jalani. Kita dapat memilih lagi.

Bagaimana jika Panen Terhormat adalah hukum negara? Dan manusia—bukan hanya tumbuhan dan hewan—memenuhi tujuan untuk mendukung kehidupan orang lain? Seperti apakah dunia ini jika seorang pengembang yang siap mengubah padang rumput menjadi pusat perbelanjaan harus terlebih dahulu meminta izin dari burung lark padang rumput dan burung goldenrod? Dan mematuhi jawaban mereka? Bagaimana jika kita mengisi keranjang belanja kita hanya dengan apa yang dibutuhkan dan memberikan sesuatu sebagai balasannya?

Bagaimana kita dapat membalas anugerah Bumi? Dalam rasa syukur, dalam upacara, melalui tindakan penghormatan praktis dan pengelolaan lahan, dalam pembelaan gigih terhadap tempat-tempat yang kita cintai, dalam seni, dalam sains, dalam lagu, di taman, pada anak-anak, dalam pemungutan suara, dalam kisah-kisah pembaruan, dalam perlawanan kreatif, dalam cara kita menghabiskan uang dan hidup kita yang berharga, dengan menolak untuk terlibat dengan kekuatan perusak ekologi. Apa pun anugerah kita, kita dipanggil untuk memberikannya dan menari demi pembaruan dunia.

Share this story:

COMMUNITY REFLECTIONS

1 PAST RESPONSES

User avatar
Joan Apr 27, 2017

"Since we lack the gift of photosynthesis, we animals are destined by
biology to be utterly dependent upon the lives of others....."

How easily our bizarre, detached way of living lets us give no thought whatsoever to the most basic thing.

We humans kid ourselves into believing we are the only life that really matters on this earth, but eliminate all plants, and we can survive at all!! (And, sadly, some might quickly answer: but I don't eat plants, I can live on meat. Ahh, the ignorance is staggering.)