Back to Stories

Praktik Spiritual Di Masa Krisis

Pada titik balik perjalanan umat manusia ini, sains dan spiritualitas bertemu, dan kita dapat melihat sekilas kemungkinan-kemungkinan baru bagi peradaban yang menopang kehidupan. Namun, perjalanannya sulit. Satu bencana besar menyusul bencana besar lainnya. Sistem ekonomi, politik, dan ekologi lepas kendali, dalam apa yang secara tepat disebut David Korten sebagai "Kehancuran Besar".

Seiring kita semakin terdesak, kita mudah panik, dan bahkan lebih mudah lagi untuk menyerah begitu saja. Dua reaksi naluriah ini—panik dan kelumpuhan—adalah parit pinggir jalan yang membatasi jalan kita menuju masa depan yang layak huni. Terjebak dalam salah satunya adalah bahaya terbesar yang kita hadapi, karena keduanya mematikan hati dan menggagalkan pikiran. Jika kita pernah membutuhkan praktik dan disiplin spiritual untuk tetap waspada dan terhubung, inilah saatnya.

Anugerah terbesar yang bisa kita berikan kepada dunia adalah kehadiran kita, yang terjaga dan penuh perhatian. Apa yang bisa membantu kita melakukannya? Berikut ini, yang diambil dari agama-agama kuno dan tradisi kebijaksanaan Bumi, adalah beberapa praktik yang telah saya pelajari untuk diandalkan.

1. Bernapaslah

Sahabat kita, napas, selalu bersama kita. Ketika kita memperhatikan alirannya, ia menyatukan pikiran dengan tubuh, dan menghubungkan dunia batin dengan dunia luar. Perhatian penuh saat menarik dan mengembuskan napas dapat memusatkan dan menenangkan Anda.

“Rasakan bagaimana napasmu membuat lebih banyak ruang di sekitarmu,” tulis penyair Rilke.

“Pertukaran yang murni dan berkelanjutan dengan segala yang ada, mengalir dan berlawanan arah di mana secara ritmis kita berada.”

Perhatikan bahwa Anda tidak memutuskan setiap kali mengembuskan napas atau menarik napas; melainkan Anda sedang dihirup. Dihirup oleh kehidupan. Begitu pula semua hewan lain, dan tumbuhan juga, dalam ritme timbal balik yang luas. Rasakan jaring itu menyegarkan dan menopang Anda.

Aliran materi/energi yang terasa membawa sedikit rasa nyaman, dan juga membuka kita terhadap aliran informasi. Hal ini melemahkan pertahanan kita terhadap informasi yang mengganggu, dan mulai membuka lingkaran umpan balik, sehingga kita dapat lebih jelas memahami apa yang telah kita sebabkan.

2. Berasal dari Rasa Syukur

Seiring terbakarnya hutan hujan dan sekaratnya plankton yang semakin mengurangi pasokan oksigen kita, setiap tarikan napas terasa semakin berharga. Rasa syukur atas karunia berharga itu mendorong kita untuk bertindak, untuk melindungi.

Dengan penuh rasa syukur, kami meneguhkan hak asasi kami untuk berada di Bumi ini, dikaruniai kesadaran yang merefleksikan diri, kekuatan untuk memilih. Untuk berada di sini dalam solidaritas satu sama lain. Untuk menjadi bagian yang hidup, hakiki, dan terberkati dari Bumi yang hidup ini.

Kita memiliki guru-guru rasa syukur yang luar biasa dalam masyarakat adat di seluruh dunia, terutama penduduk asli Amerika. Dalam setiap rapat dewan konfederasi Enam Bangsa Haudenosaunee, pidato syukur merupakan "kata-kata yang mendahului segalanya." Diucapkan kembali setiap kali dengan variasi spontan, kata-kata ini tidak hanya menyampaikan "terima kasih", tetapi juga "salam" kepada setiap makhluk dan elemen alam yang mereka hormati. Saya pikir praktik ini merupakan akar dari martabat dan harga diri yang telah bertahan selama berabad-abad dari perampasan dan penghinaan.

Ketika kita mengadaptasi praktik ini ke dalam kehidupan kita sendiri, misalnya di awal dan akhir hari, dan bahkan membawanya ke dalam rapat, kita menemukan dua hal. Pertama, rasa syukur tidak bergantung pada keadaan eksternal. Kedua, rasa syukur adalah tindakan revolusioner. Rasa syukur membantu kita menyadari betapa banyak yang telah kita miliki, sekaligus membebaskan kita dari cengkeraman masyarakat konsumtif.

3. Hargai Rasa Sakitmu untuk Dunia

Kita sedang berduka. Dengan segala yang menimpa alam dan tatanan sosial kehidupan kita bersama, ada juga rasa takut, dan juga amarah. Respons-respons ini wajar dan sehat. Jika kita menyangkalnya, kita melumpuhkan vitalitas dan kecerdasan kita.

Maka, kita tunduk kepada mereka. Ketika rasa sakit untuk dunia muncul dalam dirimu, sadarilah dan berhentilah sejenak. Berhentilah sejenak dan bernapaslah, seolah memberi ruang untuknya, seolah membiarkan rasa sakit itu mengalir di hatimu. Sadarilah bahwa kamu mampu menderita bersama duniamu. Menderita bersama adalah arti harfiah dari welas asih. Itu adalah bukti nyata dari keterkaitan kita, bahkan keberadaan kita yang tak terelakkan.

"Tidak ada kelahiran kesadaran tanpa rasa sakit," kata Carl Gustav Jung. Rasa sakit kita terhadap dunia membebaskan kita dari ilusi keterpisahan. Rasa sakit ini berperan penting dalam melahirkan kesadaran kolektif yang mungkin merupakan satu-satunya solusi bagi krisis global di zaman kita.

4. Memanfaatkan Kekuatan Kebajikan

Metta atau cinta kasih adalah meditasi aksi Buddhis yang kini dirasakan sangat mujarab oleh banyak orang. Meditasi ini bermanfaat untuk menghilangkan rasa takut dan niat buruk, serta menumbuhkan kepedulian dan pengertian.

Praktik ini tidak berfungsi sebagai perasaan yang samar dan samar, melainkan sebagai serangkaian niat yang cukup spesifik dari orang ke orang. Salah satu praktik tradisional Burma, misalnya, memiliki empat bentuk seperti ini:

Semoga (orang tertentu) terbebas dari penderitaan fisik.

Semoga dia terbebas dari penderitaan mental.

Semoga dia terbebas dari konflik.

Semoga dia diberikan kemudahan dalam kesejahteraan.

Penting untuk menerapkannya pada diri sendiri juga ("Semoga aku terbebas dari penderitaan batin", dst.). Variasi dianjurkan ("Semoga ia bebas mengembangkan keindahan pikirannya"). Praktik ini, ketika sedang dimainkan, tidak dapat hidup berdampingan dengan rasa takut.

5. Menghuni Bidang Waktu yang Lebih Luas

Kita berhubungan dengan waktu hari ini dengan cara yang tentunya unik dalam sejarah manusia. Pertumbuhan ekonomi dan teknologi nano menuntut keputusan yang dibuat secepat kilat untuk tujuan jangka pendek, memisahkan kita dari ritme alam, masa lalu, dan masa depan. Baik warisan leluhur maupun kebutuhan keturunan kita menjadi semakin tidak nyata bagi kita.

Hubungan dengan waktu ini bukanlah bawaan. Sepanjang sejarah, pria dan wanita telah bekerja keras dengan pengorbanan pribadi yang besar untuk mewariskan monumen seni dan pembelajaran kepada generasi mendatang yang tak akan pernah mereka saksikan selesainya semasa hidup mereka. Dan mereka menghormati mereka yang telah ada sebelumnya melalui kisah dan ritual.

Kita juga dapat memperluas konteks temporal kehidupan kita. Untuk membantu kita melakukannya, kosmologi dan ilmu evolusi kini menawarkan wawasan luas ke masa lalu. Mengenai hubungan dengan masa depan, sepuluh ribu generasi kini berada dalam jangkauan kita berkat limbah nuklir. Konsekuensi dari tindakan kita (karma kita) terjadi dalam skala waktu geologis.

Imajinasi moral kita adalah alat penting untuk membuka diri kita terhadap kedalaman dan keluasan waktu tempat kita berada. Perluaslah imajinasi itu ke belakang dan ke depan. Bukalah mata batin Anda terhadap perjalanan kehidupan yang luar biasa di planet kita dengan bermeditasi pada tangan Anda. "Lihatlah" perkembangan evolusinya, dari satu bentuk kehidupan ke bentuk kehidupan lainnya, dari asal-usulnya sebagai sirip di lautan purba. Lihatlah di dalamnya juga generasi-generasi tangan manusia yang tak terhitung jumlahnya, yang tugas dan keterampilannya telah membentuk dunia kita.

Undanglah orang-orang di masa depan ke dalam kesadaran Anda. Rasakan kuatnya keinginan Anda agar mereka menemukan udara bersih untuk dihirup, air untuk diminum, pepohonan, dan tanah lapisan atas. Cobalah meminta bimbingan mereka dalam pekerjaan yang harus dilakukan sekarang. Dan, untuk latihan yang saya harap Anda nikmati sama seperti saya, bayangkan seseorang dari satu atau dua abad yang akan datang (mungkin ada hubungannya dengan Anda, mungkin juga tidak) yang dapat melihat kembali ke masa lalu, dan melihat Anda di momen kehidupan Anda saat ini. Lalu, tulislah surat untuk diri Anda sendiri dari orang di masa depan ini.

Share this story:

COMMUNITY REFLECTIONS

4 PAST RESPONSES

User avatar
Josan48 Oct 31, 2019

Just now reading this powerfully inciteful piece! Thank you for this choice!

User avatar
Doug Rodrick Jan 29, 2018

It's highly unlikely that we humans will evolve to a point of collective consciousness. Too many of us are trapped in the mindset of artificial, egotistical conditioning. Too many of us are totally unaware of the downward spiraling, unsustainable future that lies ahead. This is another good read to help us prepare future generations to navigate the coming chaos.

User avatar
Patrick Watters Jan 29, 2018

Simply and profoundly beautiful, Divine Truth.

User avatar
Kay Jan 29, 2018

Wow, thank you for this article! These 5 ideas for reflection are appropriate for any time!