Selama dua dekade terakhir, banyak penelitian telah dipublikasikan tentang dampak positif dari memaafkan , khususnya pada orang yang memaafkan dan dalam hubungan. Kini, sebuah studi baru —berdasarkan penelitian yang lebih kecil tetapi terus berkembang di tempat kerja— mendukung kekuatan memaafkan untuk berpotensi meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas dalam lingkungan profesional.
Konflik di antara rekan kerja tidak dapat dihindari, dan—jika tidak dihiraukan—berkaitan dengan stres yang signifikan, masalah kesehatan (baik mental maupun fisik), dan produktivitas yang buruk. Para peneliti berupaya untuk mengeksplorasi peran memaafkan dalam memperbaiki dampak negatif ini.

Para peserta—lebih dari 200 karyawan yang bekerja di kantor-kantor di Washington, DC, atau pekerjaan manufaktur di Midwest—menanggapi kuesioner tentang tingkat pengampunan, produktivitas, dan kesejahteraan mereka.
Survei pertama meminta responden untuk fokus pada pelanggaran tertentu, dan bagaimana mereka percaya pelanggaran tersebut memengaruhi mereka. Studi kedua mengamati kecenderungan umum peserta untuk memaafkan dan kondisi pikiran serta kebiasaan kerja mereka secara umum selama bulan sebelumnya.
Dalam kedua kasus tersebut, memaafkan dikaitkan dengan peningkatan produktivitas, penurunan ketidakhadiran (lebih sedikit hari tidak masuk kerja), dan lebih sedikit masalah kesehatan mental dan fisik, seperti kesedihan dan sakit kepala. Dalam studi kedua, manfaat ini sebagian dijelaskan oleh pengurangan stres interpersonal yang sejalan dengan sikap memaafkan.
Penelitian baru ini penting bagi karyawan dan pengusaha, karena kurangnya sikap memaafkan berdampak negatif pada individu yang terlibat dan organisasi secara keseluruhan. Menyimpan perasaan negatif setelah konflik dapat menyebabkan kurangnya keterlibatan di tempat kerja, kurangnya kolaborasi, dan perilaku agresif. Menyimpan dendam juga dikaitkan dengan peningkatan stres dan sejumlah emosi negatif, termasuk kemarahan, permusuhan, dan perenungan penuh dendam.
Karena banyak orang yang pernah berkonflik perlu terus bekerja sama, memaafkan dapat menjadi alat penanggulangan yang efektif, dan cara untuk memperbaiki hubungan dan memulihkan kepercayaan—keduanya merupakan kunci budaya kerja yang efektif.
Bukti lain tentang kekuatan memaafkan
Pada tahun 2012, tim saya di Courageous Leadership LLC bekerja sama dengan karyawan di Google untuk membangun budaya yang lebih berani, termasuk keberanian untuk memaafkan (salah satu kunci hubungan kerja yang sehat dan berkelanjutan). Kami meminta karyawan untuk berbagi saat-saat ketika mereka gagal bertindak sesuai nilai-nilai mereka di tempat kerja, mengakui bahwa mereka tidak memahami sesuatu, atau berbicara ketika mereka merasa memiliki ide yang lebih baik. Ini dirancang untuk mengingatkan semua orang betapa mudahnya bertindak di luar nilai-nilai kita dalam situasi yang penuh tekanan—untuk melakukan sesuatu yang mungkin pantas dimaafkan.
Peserta kemudian berlatih mengambil tindakan yang berani. Kami meminta mereka menggunakan model REACH (yang dikembangkan oleh Everett L. Worthington, salah satu penulis pendamping studi tempat kerja yang baru) untuk berlatih memaafkan dengan mengidentifikasi dendam saat ini dan berusaha memaafkan (bukan memaafkan) perilaku tersebut. Peserta juga mengingat dan berbagi cerita saat orang lain telah memaafkan mereka.
Program kami juga menunjukkan dampak positif. Peserta melaporkan pemahaman yang lebih baik tentang kekuatan situasi yang membuat stres untuk memengaruhi perilaku secara negatif. Mereka juga melaporkan perasaan yang lebih baik dan lebih terhubung setelahnya; seperti yang dikatakan salah satu peserta: "Saya merasakan perasaan ringan yang mendalam di dalam diri saya, seperti melepaskan beban berat. Saya merasa latihan memaafkan bagi saya sangat ampuh." Peserta juga mengambil lebih banyak risiko sosial, seperti menawarkan ide-ide baru, mengakui ketakutan atau kekhawatiran, dan meminta atau menawarkan bantuan.
Penelitian menunjukkan bahwa pengampunan semacam ini bahkan dapat memengaruhi karyawan yang tidak terlibat dalam konflik. Ketika orang melihat orang lain mempraktikkan pengampunan (dan perilaku baik lainnya) di tempat kerja, hal itu sering kali menumbuhkan emosi positif yang dapat meningkatkan pengambilan keputusan, fungsi kognitif, dan kualitas hubungan.
Cara menumbuhkan sikap memaafkan di tempat kerja
Stres yang tak kunjung teratasi akibat konflik interpersonal sering kali melemahkan kapasitas kognitif dan belas kasih kita, sehingga sulit menemukan cara untuk memaafkan. Berdasarkan implikasi dari penelitian mereka, para peneliti menawarkan beberapa saran kepada individu dan organisasi untuk menumbuhkan sikap memaafkan di tempat kerja:
Jadilah teladan dalam memaafkan di tempat kerja , terutama jika Anda seorang pemimpin. Perilaku pemimpin sering kali memiliki dampak terbesar pada budaya organisasi, semacam efek penularan. Pemimpin yang menjadi teladan dalam memaafkan secara teratur akan memberikan isyarat perilaku serupa kepada orang lain.
Minta maaf dan cobalah untuk memberikan ganti rugi. Jika kita tidak bertanggung jawab atas kesalahan kita, rasa tidak percaya akan tumbuh dan ketakutan akan terjadinya sesuatu yang lebih buruk dari kejadian sebelumnya.
Bangun kembali kepercayaan dengan mengerjakan tugas bersama , ciptakan pengalaman dan kenangan baru tentang kerja sama.
Lakukan intervensi (terkadang paling baik dilakukan oleh pihak ketiga) untuk mengatasi konflik dan menumbuhkan sikap memaafkan. Berinvestasilah dalam program untuk membangun pemahaman dan mengajarkan alat berbasis bukti untuk sikap memaafkan yang berkelanjutan di tempat kerja.
Ada pepatah lama (yang dianut semua orang, mulai dari Buddha hingga Carrie Fisher) yang berbunyi, "Kebencian itu seperti menenggak racun dan menunggu orang lain yang mati." Jika Anda menyimpan dendam di tempat kerja, Anda bisa saja menyebarkan racun itu kepada rekan kerja Anda.
Tentu saja, memaafkan tidak berarti kita memaafkan atau mengabaikan perilaku buruk. Setiap tempat kerja harus memiliki kebijakan dan prosedur untuk menangani pelanggaran serius dengan cepat. Namun, jika Anda merasa siap dan situasinya menuntut, cobalah memaafkan. Ini dapat membantu Anda, rekan kerja, dan tempat kerja Anda.
COMMUNITY REFLECTIONS
SHARE YOUR REFLECTION
2 PAST RESPONSES
In order for the power of forgiveness to work, we need to make a clear distinction between real forgiveness (of someone who has confessed, repented, and made restitution, such that the relationship is fully restored) and mere release of emotions (toward someone who has not taken the steps to restore the relationship).
If the person who robbed or cheated you hasn't paid you back, you may want or even need to release your emotions and carry on with your life, but claiming to have "forgiven" him is dishonest, counterproductive, and harmful to society.
If the person who stepped on you (because s/he couldn't see you), called you by the wrong name (because s/he can't remember anything), or bit your hand (because s/he is an infant) hasn't confessed and repented, you probably don't blame him/her, but claiming to have "forgiven" this person is an unnecessarily confusing misuse of language since what you're actually doing is not holding the person accountable.
I've read a lot of things about "forgiveness" that I think were actually harmful, whether they were meant to be harmful or just carelessly written. We all need to live in a society that holds competent adults accountable for their actions.
[Hide Full Comment]Here's to maintaining trust and open communication!